Revisi HCVF Toolkit 2008 – Sistem Pengelolaan dan Pemantauan Pada Perkebunan Kelapa Sawit

Projects 26, Dec 2008

Panduan HCVF  atau HCVF Toolkit untuk Indonesia dibuat di akhir tahun 2003 sebagai tafsiran nasional yang pertama dalam hal ini. Judul lengkap dokumen ini adalah “Mengidentifikasi, Mengelola dan Memantau Hutan Dengan Nilai Konservasi Tinggi: Sebuah Toolkit untuk Pengelola Hutan dan Pihak-pihak Terkait lainnya”.

Toolkit atau panduan ini dibuat oleh sekelompok stakeholder Indonesia dan asing yang memiliki pengalaman dalam berbagai aspek sertifikasi hutan dan memiliki keahlian dalam berbagai disiplin ilmu yang terkait, termasuk diantaranya kehutanan sosial, antropologi, biologi konservasi, ekologi hutan, biologi vertebrata, dan produksi hutan.

Toolkit ini pada dasarnya merupakan hasil terjeman dari Toolkit HCVF Global yang kemudian dikembangkan melalui serangkaian lokakarya yang diorganisasi oleh Rainforest Alliance dan Proforest, diuji lapangan dan diterbitkan sebagai Draft 1 pada bulan Agustus 2003. Draft ini mencakup komponen-komponen identifikasi, pengelolaan dan pemantauan HCVF di Indonesia, serta direncanakan untuk direvisi dan disempurnakan secara berkala berdasarkan pengalaman yang didapatkan oleh para praktisi, sektor swasta, pemerintah dan stakeholder lainnya dalam penerapannya.

Dalam penerapannya selama ini, Toolkit HCVF untuk Indonesia tersebut dirasakan (semakin) sulit untuk diaplikasikan karena alasan-alasan berikut:

Toolkit HCVF ini pada mulanya disusun untuk mendukung penilaian-penilaian HCV dalam kerangka sertifikasi pengelolaan hutan alam. Namun, sejalan dengan waktu Toolkit HCVF tersebut secara de facto menjadi panduan untuk penilaian HCV di sektor-sektor lainnya, termasuk pulp dan kayu, perkebunan kelapa sawit, serta perencanaan tataguna lahan tingkat propinsi dan kabupaten, yang memerlukan pendekatan yang berbeda dari pendekatan aslinya.

Penggunaan Toolkit tersebut oleh para praktisi dengan berbagai macam latar belakang menunjukkan masih banyaknya kekurangjelasan dan ketidak-konsistenan dalam konsep-konsep dan definisi-definisi kunci serta dalam tata-cara penilaian HCV yang terutama disebabkan oleh:

Skope dan level intervensi yang tidak konsisten dan tidak teratur dalam penilaian berbagai HCV
Adaptasi Toolkit HCVF Global yang kurang tepat kedalam konteks Indonesia
Kelemahan dalam penterjemahan dari Bahasa Inggris (bahasa yang digunakan dalam Toolkit HCVF Global) kedalam Bahasa Indonesia (yang digunakan dalam Toolkit HCVF Indonesia).

Penggunaan konsep HCV di luar kerangka kerja FSC dipandang banyak pengamat sebagai membawa banyak risiko, karena proses HCV dalam bentuknya yang kini tidak memiliki pengamanan-pengamanan sosial, legal dan pemenuhan yang ada di dalam sistem FSC.

Penggunaan konsep HCV secara lebih luas di Indonesia telah menjadi isu yang sangat kontroversial, yang mana hal ini sebagian disebabkan oleh kurangnya sosialisasi konsep tersebut. Panduan (Toolkit) yang aslinya tak pernah disahkan oleh kalangan stakeholder yang terlibat di dalam perencanaan dan uji lapangannya, sehingga kredibilitasnya dalam mendefinisikan proses HCV di Indonesia jadi dipertanyakan.

Karena alasan-alasan tersebut di atas, maka di paruh akhir tahun 2006 banyak pihak pengguna Toolkit HCV Indonesia sepakat untuk merevisi dan melakukan pembaruan terhadap Toolkit tersebut untuk meningkatkan dayagunanya di Indonesia. Toolkit hasil revisi 2008 telah berhasil diselesaikan, namun dalamtoolkit revisi ini hanya terbatas pada proses identifikasi HCV. Diperlukan dokumen pelengkap toolkit tersebut terhadap sistem pengelolaan dan pemantauan. Tentunya, untuk konsep pengelolaan dan pemantauan tersebut akan berbeda-beda antara sektor-sektor Kelapa Sawit, Hutan Tanaman Industri (HTI) dan HPH. Olehkarenanya, proposal ini diajukan untuk menyusun konsep pengelolaan dan monitoring HCV pada perkebunan kelapa sawit.

Hasil yang akan dicapai:

Diharapkan akan dihasilkan Toolkit HCVF “Pengelolaan dan pemantauan HCVF di sektor Perkebunan Kelapa sawit” yang dapat memberikan penjelasan yang lebih terstruktur, logis dan rinci mengenai konsep dan metodologi HCVF, definisi dan istilah yang digunakan, tahap-tahap dalam proses pengelolaan dan pemantauan HCV, serta hak dan kewajiban para pihak yang terlibat, dengan memperhatikan hal-hal berikut:
mengakomodasikan secara eksplisit konsep HCVF pada sektor Perkebunan Kelapa Sawit yang memungkinkan aplikasinya secara umum
melakukan revisi terhadap toolkit versi 2003 dalam bahasa Indonesia untuk menghindari kesalah pahaman dan ketidak jelasan serta mendorong keterlibatan yang lebih aktif dari para pihak yang relevan
melakukan revisi secara transparan dan melibatkan para pemangku kepentingan seluas-luasnya untuk memastikan dukungan, komitmen, dan pengakuan mereka secara penuh dalam seluruh proses HCV mulai dari penilaian, sampai pengelolaan dan pemantauan khususnya di sektor perkebunan kelapa sawit

Proses:

Penyusunan draft toolkit dilakukan dengan merekrut tim kerja yang terdiri dari:
1 (satu) orang ahli Ekologi Hutan
1 (satu) orang ahli Ekologi Satwa
1 (satu) orang ahli ilmu-ilmu social/budaya
1 (satu) orang ahli tata ruang (landscape)/GIS
1 (satu) orang ahli tentang legalitas kebijakan pembangunan
1 (satu) orang ahli perkebunan kelapa sawit
1 (satu) orang ahli tanah
1 (satu) orang sekretaris/dokumenter

Tim kerja ini selanjutnya akan menyusun draft 1 (satu) HCVF toolkit revision yang akan dijadikan bahan diskusi oleh para pakar yang diundang dari berbagai disiplin ilmu dan mewakili bidang kerja masing-masing untuk menghasilkan draft final.

Diperkirakan akan ada 3 (tiga) kali pertemuan para dewan pakar hingga dihasilkannya draft final versi 1 tersebut. Diharapkan pekerjaan tersebut akan selesai selama 3 bulan.

Selanjutnya draft final versi 1 tersebut dibawa dalam proses konsultasi publik untuk dihasilkan Toolkit revisi yang berhubungan dengan proses Identifikasi, Pengelolaan dan Pemantauan khusus dalam sektro Perkebunan Kelapa Sawit.