Perhitungan Jejak Air dan Jejak Karbon untuk membenahi Tata Kelola Industri Kelapa Sawit

News 25, Apr 2018

BALI – Budidaya kelapa sawit banyak mendapat perhatian negatif lantaran dinilai tidak berkelanjutan serta menyebabkan deforestasi. Padahal sebenarnya tidak ada masalah dengan penanamannya.

Kehadiran perkebunan kelapa sawit juga telah meningkatkan standar hidup warga Malaysia dan Indonesia serta berkontribusi terhadap pendapatan negara. “Akan tetapi pengelolaannya harus ditingkatkan,” kata Henry Cai, dari PT Musim Mas.

Pembenahan tata kelola industri sawit terus dilakukan. Salah satunya dengan meraih sertifikat berkelanjutan seperti ISPO, MSPO, RSPO, dan ISCC. Hal itu diungkapkan Henry dalam diskusi tentang Jejak Air untuk Perkebunan Kelapa Sawit di ICOPE 2018.

Henry mengungkap perhitungan jejak air di perkebunan kelapa sawit PT B. Menurutnya, jejak air semakin menarik banyak perhatian. “Air adalah sumber daya langka dan terbatas akibat perbuatan manusia dan industri pertanian yang menggunakan 80% jejak air,” katanya.

Kesalahan tata kelola air dalam pertanian dapat menimbulkan masalah besar seperti mengeringnya Danau Aral akibat pengelolaan air yang buruk. Berangkat dari kekhawatiran adanya efek negatif budidaya kelapa sawit, PT B menghitung menghitung jejak air dalam aspek produksi mereka. Ada tiga jenis air yang diukur, air hijau, biru dan abu-abu. Pengukuran jejak air hijau dihitung menggunakan software CROPWAT 8.0 dan CLIMWAT 2.0 dari FAO.

Dari enam provinsi di Indonesia, jejak air rata-rata adalah 2.321,15 kubik per meter ton TBS. Riset ini menunjukkan juga air abu-abu dari fosfor sangat besar, empat kali lebih tinggi dari air yang dibutuhkan untuk asimilasi Nitrogen. Tren serupa terjadi pada produksi CPO. Dibandingkan dengan studi lain, jejak air yang diperoleh PT B masih di bawah kisaran jejak air di Malaysia dan Thailand. jejak air biru di Thailand lebih tinggi dan lebih besar dari pada jejak air abu-abu karena banyak perkebunan sawit di Thailand melakukan irigasi.

Jejak air antara lain dipengaruhi praktik pertanian dan curah hujan. Berbeda dengan Hendry, Joni Jupesta, dari PT SMART Tbk lebih fokus keaspek spesifik tentang metode pengukuran jejak air.

Menurut Joni, ada empat metode penelitian yang digunakan, yaitu Penman-Monteith, SURRE, dan Direct Evaporation (Pan-A).

Di Indonesia menggunakan metode Penman-Monteith karena harus memiliki stasiun cuaca untuk mengukur kelembaban dan suhu. Metodologi SURRE lebih mahal dan perbandingannya cukup kuat dibandingkan data stasiun cuaca. Studi PT B menggunakan data harian karena memiliki stasiun cuaca. Ada dua studi kasus yang dilakukan, yaitu di Riau dan Lampung. (*)