ICOPE 2018 Tekankan Pentingnya Pemberdayaan Smallhodlers Kelapa Sawit

Press Releases 26, Apr 2018

BALI – 26 April 2018 | Konferensi internasional tentang kelapa sawit dan lingkungan atau International Conference on Oil Palm and the Environment (ICOPE) 2018 menekankan pentingnya pemberdayaan petani kecil (smallholders) kelapa sawit untuk mendukung keberlanjutan ke depan. Dalam panel diskusi “Smallholder: Reaching Susainability” – berbagai narasumber dari UNDP Indonesia, Universitas Jambi, Sinar Mas Agribusiness and Food berbagi program upaya telah dilakukan stakeholders kelapa sawit meliputi penyusunan rencana aksi nasional (RAN), pemberdayaan smallholders dalam program pencegahan kebakaran hutan, serta program peremajaan kebun sawit.

Rini Indrayanti, National Platform Manager UNDP Indonesia, menjelaskan bahwa pembangunan kapasitas petani kelapa sawit diperlukan untuk mendukung upaya keberlanjutan industri ini ke depan. UNDP dan Kementerian Pertanian telah membentuk Forum Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FoKSBI) untuk memastikan keberlanjutan dalam sektor kelapa sawit.

“FoKSBI telah merumuskan draft rencana aksi nasional (RAN) yang di dalamnya mencakup pembangunan kapasitas smallholders. RAN yang disusun oleh multisektor stakeholders industri kelapa sawit telah disusun bersama dan sedang menunggu surat persetujuan dari dewan pengarah untuk diadopsi dalam payung hukum yang jelas. ,” kata Rini.

Rini menambahkan, “Penyusunan RAN dapat menjadi panduan yang dapat disesuaikan dengan sejumlah acuan
dalam sustainable developments goals (SDGs). RAN juga bertujuan untuk mendukung upaya pemerintah untuk
memenuhi 70% sertifikasi kelapa sawit pada 2020.”

Salah satu aksi utama dalam RAN adalah membuat database smallholders kelapa sawit di Indonesia, meningkatkan kesadaran smallholders dalam menjalankan regulasi, serta meningkatkan koordinasi antar lembaga pemerintah guna mendukung keberlanjutan industri kelapa sawit ke depan.

Sementara Rosyani, Dosen dan Peneliti dari Universitas Jambi, menjelaskan tentang strategi untuk mempertahankan sertifikat RSPO bagi smallholders kelapa sawit. Karena saat ini industri kelapa sawit menjadi
isu yang terus berkembang di seluruh dunia. Ini menunjukkan bahwa industri kelapa sawit yang berkelanjutan
sangat dibutuhkan.

Melalui riset yang dilakukan oleh Rosyani dengan petani kelapa sawit di Jambi yang tergabung dalam Gabungan
Kelompok Tani Tanjung Sejati, beliau mendapatkan, “Motivasi utama dari petani yang tergabung dalam Gapoktan untuk mempertahankan sertifikasi seperti RSPO adalah kekuatan bersama untuk mandiri. Dengan adanya sertifikasi, banyak dukungan yang datang dari eksternal untuk memberikan edukasi, bahkan pembeli dari perusahaan besar juga membeli hasil petani di Gapoktan tersebut,” paparnya.

Dalam diskusi yang sama, Susanto Yang, CEO Sinar Mas Agribusiness and Food untuk perkebunan wilayah Kalimantan Barat, menjelaskan pentingnya pemberdayaan smallholders kelapa sawit melalui Program Desa Makmur Peduli Api. “Program ini disusun 2016 dengan nama Desa Siaga Api. Pada awal, kami ingin masyarakat
terutama smallholders kelapa sawit lebih sadar dan siaga terhadap kebakaran. Kemudian pada 2017, program ini ditingkatkan menjadi Desa Makmur Peduli Api untuk memberikan manfaat agar bisa menjadi keberlanjutan
sekaligus meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat,” katanya.

Program Desa Makmur Peduli Api, lanjut Susanto, yang melibatkan masyarakat setempat di tiga desa berisi
sosialisasi, edukasi ke generasi muda, serta pengembangan pertanian ekologi terpadu untuk meningkatkan kesejahteraan petani kelapa sawit. “Dalam program ini juga, diberikan penghargaan bagi desa berupa pembangunan infrastruktur sesuai keinginan masyarakat yang didiskusikan bersama,” tuturnya.

Co-Chairman ICOPE 2018, Haskarlianus Pasang, mengatakan smallholders merupakan salah satu topik utama dalam ICOPE 2018 tahun ini karena pentingnya peran para petani tersebut dalam proses transformasi keberlanjutan industri kelapa sawit.

“Lebih dari 40% petani kelapa sawit di Indonesia merupakan petani swadaya dengan demikian mereka merupakan elemen kunci untuk mencapai industri yang berkelanjutan. Para pelaku industri dari sektor swasta telah menerapkan berbagai macam program dan terobosan dalam menunjang praktik keberlanjutan, namun sangatlah penting agar program ataupun terobosan tersebut dapat di akses oleh para petani kecil. Kami berharap melalui sesi ini para pelaku industri bisa saling belajar dan berpartisipasi dalam memberdayakan petani swadaya sehingga transformasi industri secara menyeluruh dapat terlaksana dengan lebih cepat,”
Haskarlianus.
-selesai-

ICOPE 2018
International Conference on Oil Palm and Environment (ICOPE) 2018 adalah konferensi internasional dua tahunan yang didedikasikan sebagai platform ilmiah untuk pengembangan kelapa sawit berkelanjutan guna memenuhi tantangan lingkungan. ICOPE diselenggarakan sebagai kolaborasi antara Sinar Mas Agribusiness and Food, World Wildlife Fund (WWF) Indonesia, dan CIRAD France. ICOPE yang akan datang dijadwalkan berlangsung di The Westin Resort, Nusa Dua – Bali dari 25-27 April. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi situs web kami: www.icope-series.com dan dapatkan informasi terbaru dengan mengikuti twitter @icope-series kami.

Untuk pertanyaan terkait media, silakan hubungi:
Wulan Suling
Wulan.suling@sinarmas-agri.com