Hemat Biaya Pupuk 10%, Perkebunan Sawit Ubah Limbah Tandan Buah Kosong Jadi Kompos

News 26, Apr 2018

BALI – Perkebunan kelapa sawit di Indonesia mengubah limbah berupa POME dan tandan buah kosong menjadi kompos. Langkah itu dilakukan karena bermanfaat dalam menghemat biaya pupuk sekitar 10%.

Jajang Supriatna, Head of Research and Development PT Austindo Nusantara Jaya Tbk, menjelaskan penggunaan kompos organik dari limbah kelapa sawit berupa POME dan tandan buah kosong menjadi salah satu upaya keberlanjutan (sustainability) di perkebunan kelapa sawit. “Berdasarkan kesimpulan analisis dan uji coba yang telah dilakukan, penggunaan kompos dari limbah berupa POME dan tandan buah kosong dapat memberikan sejumlah keuntungan ekonomi antara lain mengganti pupuk mineral berkisar 20%-30%,” ujarnya dalam pemaparan dalam ICOPE 2018, di Nusa Dua, Bali, Kamis (26/4).

Manfaat lain, lanjutdia, pembuangan limbah seperti POME dan tandan buah kosong bisa berkurang, bahkan menjadi 0%. “Keuntungan yang utama adalah menghemat biaya pupuk sekitar 10%, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan meningkatkan kualitas tanah,” paparnya.

Selain itu, Jajang mengungkapkan, penggunaan kompos limbah juga mempertahankan mikro fauna di tanah sehingga menjamin keberlanjutan untuk ekosistem di tanah. “Cakupan penggunaan kompos limbah juga jauh lebih besar dibanding pupuk kimia,” ucapnya.

Menurutd ia, fokus perkebunan kelapa sawit kedepan tidak hanya ketahanan pangan dan ekonomi, tapi isu adaptasi iklim dan keberlanjutan (sustainability). “Terutama sawit, Indonesia memiliki lahan paling besar sekitar lebih dari 13 juta hektare, sehingga akan ada banyak limbah. Kita harus mengubah limbah organik menjadi sumber daya berharga,” katanya.

Dia memaparkan berdasarkan studi dan uji coba di perkebunan Austindo di Belitung, proses pemrosesan kompos dari limbah POME dan tandan buah kosong dilakukan di tempat beratap, dengan proses aerobic, mixing, dan pendaur ulangan. “Sebanyak 4 ton tandan buah kosong ditumpuk, dicampur dengan POME dan metan.Volumenya menurun drastis dalam 60 hari dan menuju proses selanjutnya,” ucapnya.

Selanjutnya, dia menerangkan, kompos itu melalui dua fase yakni thermopleck dan pendinginan. Setelah itu, diuji coba untuk memupuk tanah dengan kompos limbah yang sudah jadi. “Menurut hasil analisis tanah, jelas terlihat PH atau tingkat keasaman tanah lebih baik dengan kompos. Untuk pertukaran potassium juga terlihat lebih bagus, termasuk fosfor,” paparnya.

Di sisi lain, kompos limbah mampu mencegah pembiakan kumbang badak yang menjadi serangga penghambat produksi kelapa sawit dan sering menyebabkan kematian kelapa sawit muda. “Kompos limbah berhasil positif, sehingga dapat memperbaiki kualitas tanah dan properti biologinya. Penyerapan air lebih bagus dan mempertahankan ekosistem mikro fauna,” paparnya.

Sementara itu, Hsiang Hang Tao, peneliti asal Taiwan yang memperoleh gelar Phd dari Oxford University, memaparkan pemberian tandan buah kosong di perkebunan kelapa sawit dapat meningkatkan hasil panen jangka panjang. “Upaya ini cukup berat karena ada biaya transportasi yang lebih tinggi, tapi hasilnya cukup positif dalam menjaga kualitas tanah dan mempertahankan mikro fauna di kebun sawit,” paparnya.(*)