Jejak Karbon pada Produksi Kelapa Sawit

News 26, Apr 2018

BALI – Pencarian solusi dari masalah keberlanjutan produk sawit menjadi tanggung jawab bersama. Menyikapi persoalan ini, ICOPE 2018 membahas pula terobosan dari jejak karbon. Banyaknya emisi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia inilah disebut sebagai jejak karbon.

Jejak karbon penting diketahui agar dapat mengetahui seberapa besar dampak yang ditimbulkan produksi kelapa sawit. “Kita sadar adanya kaitan sawit dengan emisi,” kata Director Global Environment Centre, Faizal Parish dalam konferensi International Conference Oil Palm and Environment (ICOPE) 2018 di Bali, Kamis (26/4).

Emisi berasal dari lahan dan operasinya. Pada 2017, RSPO Principles & Criteria pernah mengulas, merevisi dan membuat kriteria baru untuk menekan emisi gas kaca (GHG) dari lahan perkebunan yang akan dibuka. Dari dua persyaratan yang ditetapkan ada sistem uji coba untuk mendapatkan umpan balik.

“Sekarang sudah dalam tahap pelaporan publik dari anggota RSPO untuk mendapatkan emisi. Penghitungan efek rumah kaca menggunakan alat monitor emisi, PalmGHG Calculator yang telah dikembangkan RSPO P&C,” jelas Faizal.

Dari hasil pengukuran ada beberapa kriteria yang didapat. Salah satunya kriteria 7.8 yang menyarankan perkebunan baru mengikuti prosedur penanaman. Anggota RSPO harus menilai cara meminimalisir efek rumah kaca. Cara paling efektif untuk menekan biaya reduksi emisi rumah kaca antara lain menghindari pembangunan di wilayah hutan gambut, pupuk anorganik, serta mengompos EFBB dan PME. “Kuncinya adalah menghindari pembangunan di lahan gambut,” tegas Faizal.

Dia menyebutkan ada prosedur penilaian GHG untuk pengembangan lahan baru. Dari penggunaan lahan ini ada beberapa pilihan, yaitu mengembangkan wilayah selain gambut atau fokus pada tanah mineral.

Alternatif skenario dapat dipilih. Untuk Perkebunan Kelapa Sawit (PKS), dapat memilih treatment POME. Dari pilihan tersebut, skenario dan rencana mitigasi gas rumah kaca harus dibuat. Pengukuran pada 2015-2017 melibatkan 190 perkebunan di tahun 2016, 291 pada 2006 dan 180 di tahun 2017. Setiap tahun, produksi CPO rata-rata menghasilkan 2,3ton CO2. Di masa depan, perusahaan dapat melihat strategi emisi dan proyeksi pengembangan baru di wilayah berbeda.

Untuk perkebunan baru, emisinya lebih rendah. Dukungan penanaman baru perlu mengundang stakeholder lain, terutama di bidang produksi. Selain itu, gambut juga harus dikeluarkan 100% dari penanaman baru. Itu merupakan cara paling efektif dan rendah biaya untuk mengurangi biaya dan emisi di masa depan. Inventarisasi juga dapat membantu perkebunan mencari strategi terbaik mereka.

Limbah padat juga tidak dapat dipisahkan dari jejak karbon. Hal itu diungkap Researcher, Product Development Neste Corporation, Asta Soininen. Neste selaku perusahaan migas di Finlandia membantu konsumen mengurangi jejak karbon melalui produk terbarukan. Saat ini banyak upaya yang dilakukan untuk mengurangi emisi kolam terbuka. Pemisahan limbah padat pada kolam ini dapat berefek pada pembentukan methana. Masih perlu studi lebih banyak karena studi awal lebih fokus pada biogas dan bioreaktor. Hasil studi pertama menunjukkan pemisahan limbah padat dapat menurunkan GHG.

“Ada skema sukarela hanya dengan mempertimbangkan faktor emisi dari kolam terbuka dan penangkapan karbon serta pembuatan kompos tanpa mempertimbangkan emisi pemisahan limbah padat. Kesimpulan yang diperoleh dari studi ini ada penurunan faktor emisi 28% dibandingkan kolam terbuka. Biaya penelitian juga lebih rendah bila dibandingkan sektor migas. Ke depan diperlukan studi lebih lanjut tentang teknologi pemisahan limbah padat lainnya,” pungkas Asta. (*)