James Fry: Mustahil Uni Eropa Larang Penggunaan Minyak Sawit

News 27, Apr 2018

James Fry: Mustahil Uni Eropa Larang Penggunaan Minyak Sawit

BALI – Uni Eropa dinilai mustahil melarang penggunaan minyak sawit, terutama untuk produk pangan, karena alternatif substitusi justru bermasalah serta sulit menggantikan volume pasokan yang begitu besar dalam waktu singkat. Hal itu diungkap Chairman LMC International, James Fry, dalam konferensi pers yang diselenggarakan di sela-sela ICOPE 2018.

“Jika masyarakat melihat realitas hari ini, saya yakin mustahil bagi Eropa untuk secara mudah menggantikan minyak sawit,” ujar James.

Menurut dia, dalam laporan Komisi Eropa saat ini juga terjadi beberapa diskusi dan pertentangan. “Jika Eropa mem-banned minyak sawit seluruhnya, secara mendadak Anda akan kehilangan pasar sekitar 6-7 juta ton, kemudian timbul pertanyaan apa yang akan menggantikannya?” tanyanya.

Fry menerangkan, minyak nabati yang potensial menggantikan minyak sawit adalah soyabean. “Tapi soyabean juga bermasalah. Konsumen Eropa tidak akan konsumsi soyabean yang merupakan modifikasi genetic. Karena harus dipasang label khusus, dan supermarket tidak suka dengan label ini,” paparnya.

Di sisi lain, tambah dia, begitu banyak produk makanan berbasis palm kernel oil. Jika digantikan oleh soyabean, maka akan timbul kebencian yang lebih besar di kalangan LSM di Eropa karena merupakan modifikasi genetic. “Jadi soyabean oil mengandung masalah,” ucapnya.

Selain soyabean, dia menerangkan, alternatif substitusi minyak sawit adalah rapeseed oil. Eropa memproduksi rapeseed oil, tapi tidak cukup menggantikan volume minyak sawit. Tidak logis impor rapeseed atau yang setara yakni minyak kanola dari Kanada dan Australia. Minyak nabati ini juga hasil modifikasi genetic. Kecuali jika Eropa berani menjadi pembeli besar minyak alternative dan mendorong kenaikan harga minyak dari modifikasi genetic serta membawanya ke Eropa.

“Tapi saya yakin konsumen di Eropa tidak akan senang, jika mendadak semua produk pangan yang dia konsumsi mengandung modifikasi genetic,” paparnya.

Eddy Esselink, dari European Palm Oil Alliance (EPOA), juga menilai tidak logis dan mustahil untuk menggantikan minyak sawit dengan minyak nabati lainnya. “Penggunaan minyak sawit sudah sangat luas di produk-produk yang dikonsumsi masyarakat Eropa. Tidak mungkin menggantikannya secara mendadak,” paparnya.

Menurut Esselink, EPOA dibentuk pada 2013 untuk mematahkan stigma negative tentang minyak sawit. “Komitmen EPOA adalah mencapai sawit berkelanjutan di Eropa dengan cara memberi inisiatif di seluruh Eropa,” ujar Esselink.

Dia juga menyebut publik perlu mendengar kisah lengkap tentang perkembangan sawit. Menurutnya, kebutuhan minyak nabati akan meningkat seiring dengan penambahan populasi di dunia. Untuk itu keberlanjutan sektor sawit perlu dijaga. Ada sederet ide kunci pendorong keberlanjutan sektor sawit yang dilontarkan Esselink.

Tiga di antaranya adalah tanggung jawab menjaga rantai pasok, kolaborasi, dan memastikan efektivitas dampak keberlanjutan. Dari seluruh ide kunci yang dia lontarkan, Program Manager Sustainable Development MVO itu memberi penekanan pada kolaborasi. “Hasil positif bisa dicapai apabila kolaborasi muncul dari hasil kerja sama yang bagus dengan rantai pasok,” paparnya. Semua inisiatif yang diluncurkan para pemangku kepentingan di Eropa itu juga sejalan dengan 17 tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). (*)