Industri Kelapa Sawit Perkuat Pencapaian SDGs

News 25, Apr 2018

BALI – Industri kelapa sawit merupakan kunci mencapai 17 tujuan Sustainable Development Goals (SDGs).Secara garis besar perlu ada rekonsiliasi. Untuk itu, pada Juli 2018 akan diadakan workshop yang melibatkan ISPO, MSPO dan RSPO yang dapat mendukung keberlanjutan industri kelapa sawit.

Berbicara tentang industri kelapa sawit, permasalahan utama saat ini adalah kurangnya pemahaman petani kecil. Apalagi petani kecil di Indonesia masih banyak yang tuna aksara. Untuk itu perlu ada penyederhanaan konsep dan bahasa yang mudah dipahami.

“Kita harus bisa berbicara dengan bahasa mereka,” kata Dato Makhdzir Mardandari CPOPC Malaysia.

Menurutnya tantangannya adalah penyuluhan. Ada banyak komunitas dan kepala keluarga. Ini merupakan tantangan yang menarik untuk didiskusikan, diperdebatkan, dan disederhanakan bahasanya.

Sementara itu Nigeria merupakan negara dengan konsumsi CPO terbesar di dunia. Total konsumsi CPO di negara ini mencapai 2 jutametrik ton. Kebutuhan CPO di negara ini dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri dan impor dari Indonesia serta Malaysia.

Biaya impor CPO yang digelontorkan Nigeria pun tidak kecil, mencapai USD150 juta per tahun. Sungguh miris mengingat sampai awal 1960-an Njgeria mengekspor secara massal minyak sawit ke Malaysia dan Indonesia. Kapasitas produksi minyak sawit Nigeria saat itu memang  amatbesar. Sekitar 24 dari 36 negara bagian di Nigeria merupakan penghasil sawit.

Henry Olatujoye Gbengadari National Palm Produce Association of Nigeria menyatakan bahwa salah satupersoalan Nigeria adalah pertumbuhan industri hilir lambat karena membutuhkan modal besar. Untuk mengembalikan kejayaan minyak sawit di Nigeria, dibentuklah Pusat Penelitian Kelapa Sawit Nigeria atau NIFOR.

“Salah satu bentuk dukungan NIFOR adalah memasok bibit. Kini sebagian besar bibit masih dari NIFOR. Akan tetapi NIFOR tidak dapat memenuhi semua kebutuhan Nigeria. Pemenuhan bibit tetap harus impor dan pembibitannya kadang gagal karena investor harus menghadapi krisis keuangan,” kata Henry.

Pemain utama dalam produksi kelapa sawit di Nigeria saat ini adalah perkebunan besar, dan petani swadaya. Sekitar 2,1 juta hektare merupakan perkebunan liar dengan hasil 2 metrik ton TBS per hektar. (*)